Angela Septiani Tekon1, Maria Oktavina Dwi Mulyani*, Nissa Mutiara Suryana*
Di wilayah Tangerang Selatan, perkembangan usaha kuliner skala kecil seperti rumah makan ayam geprek menunjukkan peningkatan yang signifikan, terutama di daerah padat penduduk dan sekitar kampus seperti Ciputat. Salah satu usaha yang dapat dijadikan contoh adalah “Ayam Geprek Sambal Judes” yang melayani konsumen mahasiswa dan pekerja harian. Berdasarkan pengamatan penjualan selama satu bulan, pemilik usaha mencatat adanya hubungan antara harga jual dengan jumlah permintaan dan penawaran. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa ketika harga ditetapkan rendah, jumlah permintaan meningkat tetapi jumlah penawaran terbatas karena kapasitas produksi, sedangkan ketika harga lebih tinggi, jumlah penawaran meningkat namun permintaan justru menurun. Data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
| Harga per porsi (Rp) | Jumlah diminta (porsi/hari) | Jumlah ditawarkan (porsi/hari) |
| 10.000 | 120 | 60 |
| 12.000 | 100 | 80 |
| 15.000 | 80 | 100 |
| 18.000 | 60 | 120 |
Berdasarkan data tersebut, dapat dibentuk fungsi permintaan dan penawaran secara sederhana dengan pendekatan linear, yaitu fungsi permintaan Qd = 160 – 4P dan fungsi penawaran Qs = 20 + 4P. Kedua fungsi ini menunjukkan hubungan terbalik antara harga dan permintaan serta hubungan searah antara harga dan penawaran. Untuk menentukan titik keseimbangan pasar (equilibrium), kedua fungsi tersebut disamakan sehingga diperoleh persamaan berikut:
160−4P=20+4P160 – 4P = 20 + 4P160−4P=20+4P
Dari persamaan tersebut diperoleh nilai harga keseimbangan sebesar Rp17.500 dengan jumlah keseimbangan sekitar 90 porsi per hari. Kondisi ini menggambarkan titik di mana jumlah yang diminta konsumen sama dengan jumlah yang ditawarkan oleh produsen sehingga tidak terjadi kelebihan permintaan maupun kelebihan penawaran. Namun, dalam praktiknya, pemilik usaha menetapkan harga sebesar Rp12.000 karena mempertimbangkan daya beli konsumen di sekitar lokasi usaha. Pada harga tersebut, jumlah permintaan mencapai 100 porsi per hari, sementara jumlah yang mampu ditawarkan hanya 80 porsi per hari, sehingga terjadi kelebihan permintaan sebanyak 20 porsi. Kondisi ini menyebabkan sebagian konsumen tidak mendapatkan produk dan berpotensi beralih ke pesaing, serta menunjukkan bahwa usaha belum mencapai kondisi optimal dalam memaksimalkan keuntungan.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh pemilik usaha. Salah satu solusi yang paling rasional adalah melakukan penyesuaian harga secara bertahap menuju harga keseimbangan. Penyesuaian ini tidak harus dilakukan secara drastis, melainkan dapat dilakukan secara perlahan sambil mengamati respons konsumen terhadap perubahan harga. Selain itu, pemilik usaha juga dapat meningkatkan kapasitas produksi agar mampu memenuhi permintaan yang tinggi tanpa harus menaikkan harga secara signifikan. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah tenaga kerja, mempercepat proses produksi, atau meningkatkan efisiensi operasional. Dengan demikian, usaha dapat tetap mempertahankan harga yang relatif terjangkau sekaligus memenuhi permintaan pasar.
Di samping itu, pemilik usaha disarankan untuk lebih memanfaatkan data penjualan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Pencatatan data yang konsisten akan membantu dalam mengidentifikasi pola permintaan, menentukan strategi harga yang tepat, serta memprediksi kebutuhan produksi di masa mendatang. Pemilik usaha juga dapat melakukan riset sederhana terhadap pesaing di sekitar wilayah Tangerang Selatan untuk mengetahui kisaran harga pasar yang berlaku, sehingga keputusan harga yang diambil tidak hanya berdasarkan intuisi tetapi juga berdasarkan kondisi pasar yang nyata. Selain strategi harga dan produksi, usaha juga dapat meningkatkan daya saing melalui diferensiasi produk, seperti menawarkan variasi tingkat kepedasan, paket hemat, atau layanan pesan antar melalui platform digital.