{"id":3352,"date":"2026-06-26T12:50:16","date_gmt":"2026-06-26T12:50:16","guid":{"rendered":"https:\/\/radarkini.com\/?p=3352"},"modified":"2026-06-26T12:50:21","modified_gmt":"2026-06-26T12:50:21","slug":"psikiater-soroti-pola-kekerasan-berulang-dalam-kasus-pria-penyekap-pacar-hingga-alami-kebutaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/radarkini.com\/index.php\/2026\/06\/26\/psikiater-soroti-pola-kekerasan-berulang-dalam-kasus-pria-penyekap-pacar-hingga-alami-kebutaan\/","title":{"rendered":"Psikiater Soroti Pola Kekerasan Berulang dalam Kasus Pria Penyekap Pacar hingga Alami Kebutaan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis: Fajar alamin<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Jakarta<\/strong> \u2013 Kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan yang diduga dilakukan oleh kekasihnya menyita perhatian publik setelah terungkap berbagai bentuk kekerasan yang dialami korban selama bertahun-tahun. Selain penyiksaan fisik, korban dilaporkan mengalami dampak serius berupa gangguan penglihatan hingga kehilangan fungsi penglihatan pada salah satu matanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seiring terungkapnya kasus tersebut, kalangan psikiater menilai tindakan pelaku mencerminkan pola kekerasan dalam hubungan yang terjadi secara berulang dan cenderung semakin berat dari waktu ke waktu. Menurut mereka, pelaku kekerasan umumnya berupaya menguasai korban melalui intimidasi, ancaman, isolasi sosial, hingga kekerasan fisik yang terus meningkat apabila tidak segera dihentikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Psikiater menjelaskan bahwa hubungan yang dipenuhi kekerasan sering kali membuat korban sulit keluar dari situasi berbahaya. Tekanan psikologis yang berlangsung dalam waktu lama dapat menimbulkan rasa takut, ketergantungan emosional, hingga hilangnya kepercayaan diri untuk mencari pertolongan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam kasus ini, berbagai tindakan kekerasan yang diduga dilakukan pelaku disebut tidak hanya menyebabkan luka fisik, tetapi juga berpotensi meninggalkan trauma psikologis jangka panjang. Korban kekerasan berisiko mengalami gangguan kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), hingga kesulitan membangun hubungan sosial setelah berhasil keluar dari situasi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para ahli juga mengingatkan bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu dimulai dengan tindakan fisik. Tanda-tanda awal dapat berupa perilaku posesif, membatasi aktivitas pasangan, mengontrol komunikasi, melarang berinteraksi dengan keluarga atau teman, serta ancaman yang dilakukan secara terus-menerus. Apabila perilaku tersebut diabaikan, kekerasan berpotensi berkembang menjadi tindakan yang lebih serius.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kasus ini menjadi pengingat pentingnya peran keluarga, lingkungan, dan masyarakat dalam mengenali tanda-tanda kekerasan dalam rumah tangga maupun hubungan pacaran. Dukungan dari orang terdekat dinilai dapat membantu korban memperoleh perlindungan dan akses terhadap layanan hukum maupun pendampingan psikologis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain proses hukum terhadap pelaku, pemulihan korban menjadi aspek yang tidak kalah penting. Psikiater menekankan bahwa pendampingan psikologis secara berkelanjutan diperlukan untuk membantu korban memulihkan kondisi mental, membangun kembali rasa aman, serta mengurangi dampak trauma yang ditimbulkan akibat kekerasan berkepanjangan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Peristiwa ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kekerasan dalam hubungan bukan persoalan pribadi semata, melainkan masalah serius yang membutuhkan perhatian bersama. Semakin cepat tanda-tanda kekerasan dikenali dan dilaporkan, semakin besar peluang mencegah terjadinya dampak yang lebih fatal bagi korban.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Fajar alamin Jakarta \u2013 Kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan yang diduga dilakukan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3353,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-3352","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/radarkini.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3352","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/radarkini.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/radarkini.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/radarkini.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/radarkini.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3352"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/radarkini.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3352\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3354,"href":"https:\/\/radarkini.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3352\/revisions\/3354"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/radarkini.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3353"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/radarkini.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3352"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/radarkini.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3352"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/radarkini.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3352"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}