Sebagai organisasi mahasiswa, kami memandang bahwa kegiatan sosial bukan sekadar agenda rutin, melainkan manifestasi nyata dari komitmen terhadap nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pelaksanaan HIMTIF Berbagi (HIMBER) 2026 menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menghadirkan kepedulian sosial yang konkret. Namun, kami juga menegaskan bahwa kegiatan semacam ini harus terus dikembangkan agar tidak berhenti pada aspek seremonial semata.
Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa banyak kegiatan sosial mahasiswa cenderung bersifat periodik dan bergantung pada momentum tertentu, seperti bulan Ramadhan. Di satu sisi, hal ini mencerminkan tingginya antusiasme mahasiswa dalam berbagi. Namun di sisi lain, terdapat risiko bahwa kegiatan tersebut hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa keberlanjutan program yang jelas. HIMBER 2026 yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Shoutul Fataa menjadi contoh bagaimana kegiatan sosial dapat berjalan dengan baik, tetapi tetap memerlukan penguatan dalam aspek kesinambungan.
Kami berpendapat bahwa kegiatan sosial mahasiswa harus didasarkan pada nilai kebermanfaatan jangka panjang. Kegiatan berbagi tidak hanya berfungsi sebagai penyaluran bantuan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran sosial yang membentuk empati, kepedulian, dan tanggung jawab kolektif. Ketua Umum HIMTIF, Saldy Saputra, menyatakan bahwa “kegiatan ini bukan hanya tentang memberi, tetapi juga membentuk kepekaan mahasiswa terhadap realitas sosial.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kegiatan sosial memiliki dimensi edukatif yang tidak kalah penting dari aspek kemanusiaan.
Lebih jauh, kegiatan mahasiswa seperti HIMBER memiliki makna strategis bagi masyarakat. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat bukan hanya membawa bantuan materi, tetapi juga energi positif, semangat kebersamaan, dan perhatian sosial yang sering kali sangat dibutuhkan. Interaksi langsung dengan masyarakat, khususnya di lingkungan pesantren, memperkuat hubungan sosial sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap peran mahasiswa sebagai agen perubahan.
Namun demikian, kami menyadari adanya dinamika dan kritik terhadap kegiatan sosial mahasiswa. Beberapa pihak menilai bahwa kegiatan semacam ini masih bersifat insidental dan belum menyentuh akar permasalahan sosial secara mendalam. Kritik tersebut perlu disikapi secara konstruktif. Organisasi mahasiswa harus mampu melakukan evaluasi menyeluruh, baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan, maupun dampak kegiatan, agar program yang dijalankan tidak hanya simbolik, tetapi juga transformatif.
Sebagai langkah konkret, kami mendorong pengembangan program sosial berbasis keberlanjutan. Kegiatan seperti HIMBER perlu ditindaklanjuti dengan program lanjutan, seperti pembinaan pendidikan, pelatihan keterampilan, atau pendampingan masyarakat. Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan, komunitas lokal, dan lembaga sosial, perlu diperkuat untuk memperluas dampak kegiatan. Dengan demikian, kegiatan sosial mahasiswa tidak hanya hadir sesaat, tetapi mampu memberikan perubahan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, kami menegaskan komitmen untuk terus menjadikan kegiatan sosial sebagai bagian integral dari gerakan mahasiswa. HIMBER 2026 adalah langkah awal yang baik, tetapi bukan tujuan akhir. Kami berharap semangat kepedulian ini dapat terus tumbuh dan berkembang, sehingga mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berperan aktif dalam membangun masyarakat yang lebih peduli, inklusif, dan berdaya.
