Tangerang Selatan 2026 – Belakangan ini, narasi “kuliah itu scam” semakin sering muncul di media sosial. Ungkapan ini biasanya dilontarkan oleh mereka yang merasa bahwa kuliah tidak memberikan hasil instan, khususnya dalam bentuk pekerjaan dan penghasilan tinggi setelah lulus. Namun, benarkah kuliah adalah sebuah penipuan, atau justru cara pandang kitalah yang keliru sejak awal?
Banyak orang masuk perguruan tinggi dengan ekspektasi bahwa ijazah adalah tiket otomatis menuju dunia kerja. Ketika realitas tidak sesuai harapan sulitnya mencari pekerjaan, ketatnya persaingan, atau gaji awal yang tidak sebanding dengan biaya kuliah kekecewaan pun muncul. Dari sinilah label “scam” mulai disematkan pada dunia perkuliahan. Padahal, masalah utamanya sering kali bukan pada sistem pendidikan, melainkan pada tujuan yang salah sejak awal.
Kuliah sejatinya tidak pernah menjanjikan pekerjaan. Perguruan tinggi adalah ruang belajar, tempat seseorang mengembangkan cara berpikir, membangun karakter, memperluas wawasan, serta melatih kemampuan analisis dan pemecahan masalah. Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah bukanlah produk siap pakai, melainkan bekal yang harus diolah, dikembangkan, dan dikombinasikan dengan pengalaman nyata di luar kampus.
Narasi “kuliah itu scam” juga sering muncul karena perbandingan yang tidak adil. Media sosial kerap menampilkan kisah sukses individu yang berhasil tanpa kuliah—pengusaha muda, konten kreator, atau praktisi digital. Kisah-kisah ini seolah menjadi bukti bahwa kuliah tidak penting. Namun yang sering luput disadari adalah bahwa setiap jalan memiliki risiko dan prasyaratnya sendiri. Tidak semua orang memiliki akses, modal, jejaring, atau disiplin diri yang sama untuk berhasil tanpa pendidikan formal.
Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa sistem pendidikan tinggi juga memiliki kelemahan. Kurikulum yang kurang relevan, minimnya pengalaman praktis, serta kurangnya pendampingan karier dapat membuat lulusan merasa tidak siap menghadapi dunia kerja. Namun, kekurangan ini seharusnya menjadi bahan evaluasi dan perbaikan, bukan alasan untuk menyimpulkan bahwa kuliah adalah sebuah penipuan.
Kuliah akan terasa “scam” jika dipandang semata-mata sebagai alat mencari kerja. Sebaliknya, kuliah akan menjadi proses yang bermakna jika dimanfaatkan sebagai ruang bertumbuh: aktif berorganisasi, mengikuti proyek, magang, membangun portofolio, dan memperluas relasi. Mereka yang mampu memaksimalkan kesempatan ini umumnya tidak hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga kompetensi nyata.
Pada akhirnya, kuliah bukanlah jaminan sukses, tetapi juga bukan jebakan. Ia hanyalah salah satu jalan yang menuntut kesadaran, usaha, dan strategi. Menyebut kuliah sebagai “scam” tanpa memahami esensinya justru berisiko menyesatkan generasi muda. Yang lebih penting bukanlah memilih kuliah atau tidak, melainkan memahami tujuan, kesiapan diri, dan tanggung jawab atas pilihan yang diambil.
Penulis : nur a.c
