Setiap organisasi, baik perusahaan maupun organisasi kemahasiswaan, menghadapi tantangan yang sama dalam mengelola anggotanya, yaitu perbedaan kemampuan, minat, pengalaman, dan potensi setiap individu. Tidak semua anggota mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya sejak awal bergabung. Ada yang sudah mengenali bidang yang sesuai dengan dirinya, namun tidak sedikit pula yang masih belum memahami potensi yang dimilikinya. Apabila kondisi ini dibiarkan, potensi anggota berisiko tidak berkembang secara optimal dan organisasi akan kesulitan menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat. Di sinilah pentingnya talent identification dan talent mapping sebagai bagian dari talent management.
Talent identification merupakan proses yang dilakukan organisasi untuk mengenali individu yang memiliki kemampuan, kompetensi, minat, dan potensi tertentu yang dapat dikembangkan untuk memberikan kontribusi bagi organisasi. Siswanto et al. (2021) menjelaskan bahwa talent identification merupakan bagian penting dalam talent management yang digunakan untuk mengidentifikasi individu bertalenta berdasarkan kriteria tertentu, termasuk data kinerja. Sementara itu, Nijs et al. (2022) memahaminya sebagai proses ketika organisasi menilai dan mengenali siapa yang dianggap memiliki talenta berdasarkan karakteristik, perilaku, dan jenis kemampuan yang dimiliki. Proses ini tidak hanya melihat kemampuan teknis, tetapi juga perilaku, cara berkomunikasi, kerja sama, keaktifan, kemauan belajar, dan kemampuan mengembangkan diri.
Setelah talent dikenali, langkah selanjutnya adalah talent mapping, yaitu proses memetakan atau mengelompokkan individu berdasarkan kemampuan, kompetensi, kinerja, potensi, dan karakteristik yang dimiliki. Talent mapping tidak hanya melihat kemampuan yang tampak saat ini, tetapi juga mempertimbangkan potensi yang dapat dikembangkan di masa depan. Oleh karena itu, seseorang dengan kinerja yang belum menonjol tetapi memiliki potensi besar tetap layak mendapat perhatian untuk dikembangkan, sedangkan individu berkinerja baik juga perlu dipertimbangkan untuk mendapat tanggung jawab yang lebih besar. Melalui pemetaan ini, organisasi dapat lebih mudah menentukan posisi, peran, dan bentuk pengembangan yang sesuai bagi setiap anggota, serta membangun talent pool, yaitu kumpulan individu potensial yang dapat diandalkan ketika organisasi membutuhkan seseorang untuk mengisi suatu tugas atau tanggung jawab tertentu.
Terdapat beberapa metode yang umum digunakan dalam melakukan talent mapping, di antaranya 9-box matrix yang menilai kinerja dan potensi individu, penilaian kinerja, assessment atau tes kemampuan, wawancara, observasi, portofolio, serta mentoring dan evaluasi berkala. Kombinasi beberapa metode ini memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kemampuan dan potensi seseorang, sehingga hasil pemetaan menjadi lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sumber Foto : https://share.google/SCKdugGxCmIQh4p66
Penerapan talent identification dan talent mapping dapat dilihat pada studi kasus UKM Lingkar Kreatif Universitas Pamulang, sebuah organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang industri kreatif dengan tiga bidang pengembangan utama, yaitu fotografi, videografi, dan desain grafis. Keberagaman bidang ini memberi peluang bagi setiap anggota untuk mengembangkan kemampuan sesuai minat dan potensinya masing-masing. Proses identifikasi talent di Lingkar Kreatif dimulai sejak open recruitment atau yang dikenal dengan istilah ‘oprek’. Setelah itu, calon anggota mengikuti tahap wawancara, di mana pengurus menggali pengalaman, minat, kemampuan, dan portofolio yang dimiliki. Meskipun portofolio menjadi salah satu bahan penilaian, calon anggota yang belum memilikinya tetap berkesempatan bergabung apabila mampu menunjukkan kemampuan pada bidang tertentu selama proses seleksi maupun setelah mengikuti kegiatan organisasi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pengurus, terdapat beberapa kendala yang dihadapi Lingkar Kreatif dalam proses identifikasi dan pemetaan talent. Pertama, sulit mengenali kemampuan anggota yang belum memiliki pengalaman, karena kemampuan mereka baru terlihat setelah mengikuti berbagai kegiatan organisasi. Kedua, tidak semua anggota mampu menampilkan kemampuan terbaiknya pada saat seleksi, sehingga potensi sesungguhnya belum tentu terlihat sejak awal. Ketiga, kurangnya rasa percaya diri membuat sebagian anggota kesulitan menunjukkan kemampuan yang sebenarnya dimiliki. Keempat, masih ada anggota yang belum mengetahui bidang atau passion yang paling sesuai dengan dirinya di antara tiga departemen yang tersedia.
Untuk mengatasi hal tersebut, Lingkar Kreatif menerapkan beberapa metode secara berjenjang, mulai dari wawancara dan penilaian portofolio, tes praktik sederhana dalam kegiatan training, mentoring oleh pengurus, evaluasi berkala, hingga observasi keaktifan anggota selama mengikuti kegiatan. Anggota yang aktif bertanya, hadir, dan terlibat dalam kegiatan dinilai memiliki potensi untuk diberi tanggung jawab yang lebih besar. Penerapan metode ini memberikan dampak positif, baik bagi anggota maupun organisasi. Anggota merasa lebih nyaman dan percaya diri karena ditempatkan sesuai minat dan kemampuannya, sementara organisasi menjadi lebih mudah mengenali bakat anggota dan mempersiapkan regenerasi kepengurusan.
Sebagai langkah perbaikan, Lingkar Kreatif disarankan untuk tidak hanya mengandalkan portofolio dan wawancara sebagai dasar penilaian, tetapi juga mempertimbangkan keterlibatan dan perkembangan anggota selama mengikuti kegiatan organisasi. Memberikan lebih banyak kesempatan kepada anggota untuk mengikuti berbagai program dan perlombaan juga dapat membantu memunculkan kemampuan yang belum terlihat. Bagi anggota yang masih kurang percaya diri atau belum menemukan bidang yang sesuai, organisasi dapat memberikan arahan serta kesempatan untuk mencoba berbagai bidang, sehingga mereka dapat menemukan potensi dirinya secara lebih optimal.
Dengan proses talent identification dan talent mapping yang lebih terarah, Lingkar Kreatif Universitas Pamulang dapat lebih mudah mengenali, menempatkan, dan mengembangkan potensi setiap anggotanya. Hal ini tidak hanya meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri anggota, tetapi juga mendukung keaktifan organisasi serta mempersiapkan regenerasi kepengurusan di masa mendatang.
Sumber: Nijs, S., Dries, N., Van Vlasselaer, V., & Sels, L. (2022). Reframing talent identification as a status-organising process: Examining talent hierarchies through data mining. Human Resource Management Journal, 32(1), 169–193.
Siswanto, J., Cahyono, E., Monang, J., Aisha, A. N., & Mulyadi, D. (2021). Identifying talent: Public organisation with skewed performance scores. Journal of Management Development, 40(4), 293–312.
Penulis :
1. Ade Leni Nuraeni (Mahasiswa Universitas Pamulang)
2. Citra Adelia (Mahasiswa Universitas Pamulang)
3. Iftah Normalia (Mahasiswa Universitas Pamulang)
4. Muhammad Rifki Fauzi (Mahasiswa Universitas Pamulang)
5. Ubaidillah (Mahasiswa Universitas Pamulang)