Penulis: Fajar alamin
Mesuji – Pemerintah Kabupaten Mesuji bersama Pemerintah Provinsi Lampung memperkenalkan pendekatan baru dalam upaya pelestarian satwa liar melalui penyelenggaraan sayembara penyelamatan tapir. Program tersebut menawarkan hadiah sebesar Rp50 juta bagi masyarakat yang berhasil membantu mengamankan tapir dalam kondisi hidup dan sehat agar dapat dipindahkan ke habitat yang lebih sesuai.
Inisiatif ini lahir sebagai respons atas meningkatnya perhatian terhadap keberadaan tapir yang beberapa kali ditemukan memasuki kawasan permukiman dan lahan pertanian masyarakat. Pemerintah menegaskan bahwa tujuan utama program bukan untuk menangkap satwa sebagai objek perburuan, melainkan menyelamatkannya dari ancaman kematian sekaligus mengembalikannya ke kawasan konservasi.
Tapir merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi di Indonesia. Kemunculannya di wilayah Mesuji diduga berkaitan dengan perubahan habitat dan aktivitas manusia di sekitar kawasan hutan. Karena Mesuji didominasi kawasan hutan produksi dan bukan habitat alami tapir, satwa tersebut direncanakan akan dievakuasi menuju kawasan konservasi seperti Way Kambas agar dapat hidup di lingkungan yang lebih sesuai.
Melalui program ini, masyarakat juga diberikan pemahaman bahwa mereka tidak harus menangkap tapir secara langsung. Warga yang menemukan keberadaan satwa tersebut cukup melaporkan lokasi kepada petugas sehingga proses evakuasi dapat dilakukan oleh tim yang memiliki kompetensi. Pendekatan ini diharapkan dapat meminimalkan risiko bagi masyarakat maupun satwa liar itu sendiri.
Selain pemberian insentif, pemerintah daerah juga terus melakukan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian satwa yang dilindungi. Edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting agar konflik antara manusia dan satwa liar dapat diminimalkan. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan kejadian perburuan maupun pembunuhan satwa langka tidak kembali terulang.
Langkah Pemerintah Kabupaten Mesuji menunjukkan bahwa pelestarian satwa liar memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga konservasi. Pendekatan berbasis partisipasi publik seperti sayembara penyelamatan ini diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara perlindungan keanekaragaman hayati dan keamanan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Ke depan, keberhasilan program ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang menghadapi konflik antara manusia dan satwa liar. Dengan mengedepankan penyelamatan dibandingkan perburuan, upaya konservasi tidak hanya melindungi spesies yang terancam, tetapi juga memperkuat kesadaran bersama bahwa satwa liar merupakan bagian penting dari ekosistem yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
