Oleh: Wilda Yanti
Menonton film sering kali tidak hanya memberi hiburan, tetapi juga mengajak penonton melihat kenyataan dari sudut pandang yang berbeda. Ada film yang selesai begitu layar menjadi gelap, tetapi ada pula film yang justru meninggalkan banyak pertanyaan setelah kredit penutup muncul. Bagi saya, The Verdict (2025) termasuk dalam kategori yang kedua. Film ini membuat saya terus bertanya, apakah keadilan benar-benar dapat dimiliki oleh semua orang, atau hanya menjadi hak bagi mereka yang memiliki kekuasaan dan pengaruh?
Sejak awal, The Verdict tidak sekadar menyuguhkan kisah tentang pembunuhan dan persidangan. Film ini memperlihatkan perjalanan seorang laki-laki yang hidupnya berubah drastis setelah kehilangan orang yang paling dicintainya. Dari situlah konflik mulai berkembang. Penonton diajak menyaksikan bagaimana sebuah perkara hukum yang seharusnya mencari kebenaran justru dipenuhi berbagai kepentingan. Ketegangan yang dibangun tidak hanya berasal dari proses persidangan, tetapi juga dari pergulatan batin tokoh utama yang perlahan kehilangan kepercayaan terhadap sistem hukum.
Ada satu hal yang menurut saya paling menarik dari film ini. Persidangan yang ditampilkan bukan sekadar tempat untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ruang sidang justru menjadi simbol pertarungan antara kebenaran, kekuasaan, dan kepentingan. Semakin jauh cerita berjalan, semakin terlihat bahwa mencari keadilan tidak semudah yang dibayangkan. Ada prosedur, ada aturan, ada orang-orang yang memiliki kepentingan masing-masing. Pada titik inilah film berhasil membuat penonton ikut merasakan kebingungan dan kekecewaan yang dialami tokoh utamanya.
Sebagai penonton, saya merasa film ini tidak sedang mengajak kita membenci hukum. Sebaliknya, film ini mengingatkan bahwa hukum akan kehilangan maknanya apabila tidak lagi berpihak pada rasa keadilan. Aturan memang penting, tetapi aturan yang dijalankan tanpa hati nurani hanya akan menjadi kumpulan pasal yang jauh dari harapan masyarakat.
Jika dilihat dari perspektif sosiologi sastra, film ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar cerita di layar lebar. Pendekatan sosiologi sastra memandang bahwa karya sastra, termasuk film, lahir dari kehidupan masyarakat dan tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial yang melatarbelakanginya. Apa yang ditampilkan dalam film sering kali merupakan cerminan dari persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Karena itu, konflik dalam The Verdict dapat dipahami sebagai bentuk kritik terhadap berbagai persoalan hukum dan keadilan yang masih menjadi perbincangan hingga sekarang.
Tokoh utama dalam film ini bukan digambarkan sebagai sosok yang sempurna. Ia hanyalah manusia biasa yang percaya bahwa hukum mampu memberikan jawaban atas penderitaan yang dialaminya. Namun, kepercayaan itu perlahan runtuh ketika proses hukum yang ia harapkan justru menghadirkan lebih banyak tanda tanya. Perubahan sikap tokoh utama inilah yang menjadi kekuatan film. Penonton dapat merasakan bagaimana rasa kehilangan, kemarahan, dan kekecewaan perlahan mengubah cara seseorang memandang dunia.
Film ini juga menunjukkan bahwa keadilan bukan hanya persoalan menang atau kalah di ruang sidang. Keadilan berkaitan dengan rasa percaya masyarakat terhadap lembaga hukum. Ketika kepercayaan itu mulai hilang, yang muncul bukan hanya kekecewaan, tetapi juga ketakutan bahwa siapa pun dapat mengalami hal yang sama. Inilah mengapa film ini terasa dekat dengan kehidupan nyata. Banyak orang mungkin tidak pernah mengalami peristiwa seperti tokoh utama, tetapi hampir semua orang pernah mendengar cerita tentang masyarakat yang merasa sulit memperoleh keadilan.
Dalam pandangan sosiologi sastra, karya sastra memiliki fungsi sosial. Film tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan kritik dan mengajak masyarakat berpikir. The Verdict menjalankan fungsi tersebut dengan cukup baik. Film ini tidak memberikan jawaban yang sederhana, tetapi justru mengajak penonton berdiskusi tentang arti keadilan yang sesungguhnya. Apakah keadilan hanya dapat diukur melalui putusan pengadilan, atau justru melalui rasa bahwa setiap orang diperlakukan secara setara?
Menurut saya, kekuatan terbesar film ini terletak pada kemampuannya membangun empati. Penonton diajak melihat bahwa di balik setiap perkara hukum terdapat manusia yang memiliki keluarga, harapan, dan rasa kehilangan. Ketika seseorang hanya dipandang sebagai nomor perkara atau berkas persidangan, sisi kemanusiaan perlahan menghilang. Film ini mengingatkan bahwa hukum seharusnya tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Di sisi lain, film ini juga mengajak kita untuk tidak melihat persoalan hukum secara hitam putih. Tidak semua aparat digambarkan buruk, begitu pula tidak semua proses hukum digambarkan gagal. Justru di situlah letak kekuatan ceritanya. Film memperlihatkan bahwa persoalan keadilan sangat kompleks karena melibatkan manusia dengan berbagai kepentingan, tekanan, dan pilihan yang tidak selalu mudah.
Sebagai sebuah karya, The Verdict berhasil membuktikan bahwa film dapat menjadi ruang refleksi sosial. Penonton tidak hanya diajak mengikuti alur cerita, tetapi juga diajak mempertanyakan kondisi masyarakat di sekitarnya. Film ini mengingatkan bahwa keadilan bukan sekadar konsep yang tertulis dalam undang-undang, melainkan nilai yang harus terus diperjuangkan oleh semua pihak.
Pada akhirnya, saya memahami mengapa tema keadilan tidak pernah kehilangan relevansinya. Selama masih ada masyarakat yang merasa suaranya tidak didengar, selama masih ada orang yang meragukan keberpihakan hukum, pembicaraan tentang keadilan akan selalu menemukan tempatnya. Melalui The Verdict, penonton diajak melihat bahwa persoalan tersebut bukan hanya milik tokoh dalam film, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial yang kita hadapi.
Karena itu, judul “Ketika Keadilan Menjadi Barang Mewah” terasa begitu tepat. Keadilan seharusnya menjadi hak setiap warga negara, bukan sesuatu yang hanya dapat dirasakan oleh segelintir orang. Film ini menjadi pengingat bahwa hukum tidak cukup hanya berjalan sesuai prosedur, tetapi juga harus mampu menghadirkan rasa adil bagi masyarakat. Ketika keadilan mulai terasa sulit dijangkau, saat itulah kita perlu kembali bertanya: untuk siapa sebenarnya hukum ditegakkan?
