Oleh: Sofyan Mufti Prasetiyo,.ST., M.Kom,
Dosen Teknik Informatika – Universitas Pamulang
Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber – BRIN
Garam mungkin terlihat sebagai komoditas sederhana. Kita menggunakannya setiap hari di dapur, industri pangan, perikanan, kesehatan, hingga berbagai proses industri. Namun di balik butiran putih tersebut terdapat persoalan yang tidak sederhana. Petambak garam rakyat masih menghadapi tantangan perubahan cuaca, kualitas produksi yang tidak seragam, keterbatasan teknologi, serta rendahnya nilai tambah produk.
Di tengah tantangan tersebut, teknologi menawarkan peluang baru. Salah satunya melalui penerapan Smart Tunnel berbasis Internet of Things (IoT) yang mulai diperkenalkan dalam pengelolaan produksi garam rakyat.
Teknologi ini menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan Pelatihan Inovasi dalam Pengelolaan Produksi Garam Rakyat Berkelanjutan yang dilaksanakan melalui kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Padjadjaran (UNPAD), dan BINUS University pada Jumat, 18 September 2026, di Aula Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Tim Peneliti terdiri dari Prof. Budi Harsanto, Dr. Yulistyne Kasumaningrum, S.Sos., M.MKMT, Roudlotul Ba’diah, S.M., M.M (Universitas Padjadjaran), Dr. Ir. Armen Zulham, M.Sc., Sofyan Mufti Prasetiyo, ST., M.Kom, Joni Iskandar, SE., M.Si (BRIN), dan Dr. Dany Eka Saputra, S.T., M.T. (BINUS University)


Kegiatan tersebut membawa tema “Teknologi Produksi Garam Berkualitas dengan Sistem Tunnel, Diversifikasi Produk Garam dan Peningkatan Nilai Tambah Usaha.”
Tema ini penting karena masa depan garam rakyat tidak cukup hanya berbicara mengenai bagaimana menghasilkan garam sebanyak-banyaknya. Tantangan berikutnya adalah bagaimana garam dapat diproduksi dengan lebih berkualitas, lebih konsisten, lebih efisien, memiliki nilai tambah, serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar kepada masyarakat pesisir.
Ketika Cuaca Menjadi Tantangan Petambak Garam
Produksi garam secara tradisional sangat bergantung pada sinar matahari dan kondisi cuaca. Ketika panas matahari cukup dan hujan tidak turun, proses produksi dapat berjalan dengan baik. Sebaliknya, perubahan cuaca dapat mengganggu proses penguapan dan kristalisasi garam. Persoalan ini menjadi semakin penting ketika kondisi cuaca semakin sulit diprediksi.
Di sinilah sistem tunnel menawarkan pendekatan berbeda. Secara sederhana, tunnel merupakan ruang produksi yang dirancang agar proses penguapan dan pembentukan kristal garam dapat berlangsung dalam lingkungan yang lebih terkendali.
Namun tunnel saja belum cukup.
Dengan perkembangan teknologi digital, tunnel dapat ditingkatkan menjadi Smart Tunnel. Artinya, proses di dalam tunnel tidak hanya bergantung pada pengamatan manusia, tetapi dapat dibantu oleh sensor dan teknologi Internet of Things atau IoT.
IoT memungkinkan berbagai perangkat dan sensor mengirimkan data secara otomatis. Dalam konteks produksi garam, sensor misalnya dapat digunakan untuk membantu memantau suhu, kelembapan udara, kondisi lingkungan, maupun parameter lain yang berhubungan dengan proses produksi.
Data tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan bagi petambak atau pengelola untuk menentukan langkah yang tepat dalam proses produksi.
Sederhananya, jika sebelumnya petambak banyak mengandalkan pengalaman dan pengamatan langsung, ke depan pengalaman tersebut dapat diperkuat dengan data yang diperoleh secara terus-menerus dari lapangan.
Teknologi bukan menggantikan petambak. Teknologi justru membantu petambak mengambil keputusan dengan informasi yang lebih baik.
Dari Tunnel Menjadi Smart Tunnel
Transformasi dari tunnel menjadi Smart Tunnel merupakan contoh bagaimana teknologi digital dapat masuk ke sektor pertanian dan kelautan tanpa harus selalu dimulai dengan teknologi yang rumit.


Bayangkan seorang petambak dapat mengetahui kondisi tunnel melalui data sensor. Ketika suhu berubah atau kelembapan meningkat, informasi dapat tercatat secara otomatis. Data tersebut kemudian dapat dikumpulkan sehingga pola produksi dari waktu ke waktu dapat dipelajari. Semakin panjang data yang dimiliki, semakin besar pula peluang untuk mengetahui kondisi produksi yang paling baik.
Inilah salah satu kekuatan utama pertanian berbasis data atau data-driven agriculture.
Keputusan produksi tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi semakin didukung oleh catatan data yang nyata. Dalam jangka panjang, data tersebut juga dapat menjadi modal penting untuk mengembangkan sistem yang lebih maju, misalnya peringatan dini terhadap kondisi produksi yang kurang ideal, pencatatan proses produksi, hingga evaluasi kualitas dan produktivitas.
Karena itu, penerapan IoT pada Smart Tunnel sebaiknya tidak dilihat sekadar sebagai pemasangan sensor. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya produksi berbasis data di tingkat masyarakat.
Bukan Hanya Teknologi, tetapi Peningkatan Nilai Tambah
Persoalan garam rakyat juga tidak berhenti pada produksi. Apabila petambak hanya menghasilkan garam sebagai bahan baku dengan nilai jual rendah, peningkatan produksi belum tentu memberikan peningkatan pendapatan yang besar.Karena itu, pendekatan inovasi perlu diteruskan menuju diversifikasi produk dan peningkatan nilai tambah usaha.
Garam dapat dikembangkan menjadi berbagai produk sesuai standar kualitas dan kebutuhan pasar. Dengan pengolahan, pengemasan, peningkatan mutu, identitas produk, serta pemasaran yang baik, komoditas garam dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Dengan kata lain, masyarakat perlu didorong tidak hanya menjadi produsen garam, tetapi juga secara bertahap berkembang menjadi pelaku usaha berbasis garam.
Konsep inilah yang menjadi semakin relevan bagi kawasan pesisir seperti Pangandaran.
Potensi sumber daya lokal seharusnya tidak hanya diambil sebagai bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah yang memberikan manfaat ekonomi lebih besar kepada masyarakat setempat.
Riset Harus Sampai kepada Masyarakat
Salah satu persoalan dalam pengembangan teknologi adalah adanya jarak antara hasil riset dengan kebutuhan masyarakat.
Teknologi yang baik bukan hanya teknologi yang berhasil bekerja di laboratorium. Teknologi akan memiliki makna yang lebih besar ketika dapat diterapkan, digunakan, dirawat, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Karena itu, kegiatan di Desa Masawah menjadi menarik karena tidak berhenti pada penyampaian teori.
Terdapat tiga agenda penting, yaitu instalasi dan penerapan Smart Tunnel, pelatihan produksi garam, serta penandatanganan nota kesepahaman atau MoU dengan Dinas Kelautan, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DKPKP) Kabupaten Pangandaran di lokasi produksi garam.
Kombinasi ketiganya sangat penting. Teknologi membutuhkan pengguna yang memahami cara mengoperasikannya. Pelatihan membutuhkan pendampingan agar pengetahuan dapat diterapkan. Sementara keberlanjutan program membutuhkan dukungan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan.
Dengan demikian, inovasi tidak berhenti setelah kegiatan selesai.
Kolaborasi Menjadi Kunci
Pengembangan garam rakyat tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
Peneliti memiliki kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik dan pendidikan. Pemerintah daerah memahami kebutuhan serta karakteristik wilayah. Sementara masyarakat dan petambak merupakan pihak yang memahami kondisi lapangan sekaligus pengguna langsung teknologi.
Ketika seluruh pihak tersebut bekerja bersama, inovasi memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Kolaborasi BRIN, UNPAD, BINUS University, DKPKP Kabupaten Pangandaran, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi contoh bahwa inovasi membutuhkan suatu ekosistem.
Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari penelitian berjudul “Model Pengembangan Garam Rakyat Berbasis Inovasi Berkelanjutan untuk Mendukung Ekonomi Biru di Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.”
Kegiatan riset ini memperoleh pembiayaan melalui Pelaksanaan Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi Gelombang IX.
Konsep ekonomi biru yang menjadi bagian dari penelitian ini juga memiliki makna penting. Pemanfaatan sumber daya kelautan dan pesisir idealnya tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan sumber daya, efisiensi produksi, inovasi, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Teknologi Harus Mudah Digunakan
Meski memiliki peluang besar, penerapan IoT di tingkat petambak tetap perlu dilakukan secara realistis. Teknologi yang terlalu rumit, mahal, atau sulit dirawat berisiko tidak digunakan dalam jangka panjang.
Karena itu, prinsip utama pengembangan Smart Tunnel untuk masyarakat seharusnya adalah tepat guna, mudah digunakan, mudah dipelihara, dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung.
Keberhasilan inovasi bukan diukur dari banyaknya sensor yang dipasang atau canggihnya perangkat yang digunakan.
Keberhasilan justru terjadi ketika petambak dapat mengatakan: teknologi ini membantu saya bekerja lebih baik.
Lebih jauh lagi, diperlukan pelatihan yang berkelanjutan sehingga masyarakat tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi perlahan memiliki kemampuan untuk memahami, mengoperasikan, bahkan ikut mengembangkan teknologi tersebut sesuai kebutuhan lokal.


Dari Desa Masawah untuk Garam Indonesia
Apa yang dilakukan di Desa Masawah, Pangandaran, mungkin terlihat sebagai sebuah langkah kecil dibandingkan besarnya persoalan industri garam nasional.
Namun inovasi memang sering dimulai dari skala kecil.
Satu Smart Tunnel dapat menjadi tempat belajar. Satu kelompok petambak dapat menjadi contoh. Satu desa dapat menjadi lokasi pembuktian. Ketika teknologi tersebut memberikan manfaat, modelnya dapat diperbaiki, dikembangkan, dan direplikasi di wilayah lain.
Karena itu, kegiatan ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pemasangan perangkat IoT atau pembangunan tunnel.
Yang sedang dibangun sebenarnya adalah model baru pengelolaan garam rakyat: dari produksi yang sangat bergantung pada kondisi alam menuju produksi yang semakin adaptif, berbasis teknologi, berbasis data, berkualitas, dan memiliki nilai tambah.
Indonesia memiliki garis pantai yang panjang, sumber daya manusia pesisir, serta kebutuhan garam yang besar. Potensi tersebut perlu dipertemukan dengan riset, inovasi, teknologi, pelatihan, dan keberpihakan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Smart Tunnel berbasis IoT bukan satu-satunya jawaban terhadap seluruh persoalan garam nasional. Namun teknologi ini dapat menjadi salah satu langkah penting untuk menunjukkan bahwa digitalisasi tidak hanya milik industri besar atau kota besar.
Teknologi juga dapat hadir di tambak garam.
Sensor dapat bekerja bersama matahari dan air laut. Data dapat melengkapi pengalaman petambak. Riset dapat bertemu kebutuhan masyarakat. Dan inovasi dapat menciptakan nilai ekonomi baru bagi desa pesisir.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan inovasi bukan seberapa canggih teknologi yang diciptakan, melainkan seberapa besar teknologi tersebut mampu memberikan manfaat, meningkatkan kualitas produksi, memperkuat usaha masyarakat, dan membuat kehidupan petambak garam menjadi lebih baik.
Dari Smart Tunnel di Cimerak, kita dapat melihat satu pesan penting: masa depan garam rakyat Indonesia dapat dibangun dengan memadukan kearifan dan pengalaman petambak dengan kekuatan riset, data, serta teknologi digital.