Khanif Faozi, S.Kom., M.Kom.
Dosen Teknik Informatika – Univesitas Pamulang
Pernahkah kita membuka aplikasi e-commerce hanya untuk mencari satu barang, tetapi beberapa menit kemudian justru menemukan berbagai produk lain yang terasa begitu sesuai dengan kebutuhan?
Kita mencari sepatu olahraga, lalu muncul rekomendasi kaus, celana training, hingga tas olahraga. Kita mencari ponsel, kemudian layar dipenuhi rekomendasi casing, earphone, power bank, bahkan produk lain dengan harga yang hampir sama.
Kebetulan?
Tidak selalu.
Di balik pengalaman belanja yang terasa semakin personal itu, ada teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang bekerja membaca berbagai pola dari aktivitas pengguna.
AI kini bukan lagi sekadar teknologi yang kita temui dalam film atau laboratorium. Dalam kehidupan sehari-hari, AI perlahan menjadi bagian dari aktivitas belanja online.
Dari mesin pencari menjadi “asisten belanja”
Dulu, konsumen harus mengetik kata kunci dan mencari sendiri produk yang diinginkan. Sekarang, platform e-commerce dapat membantu mempersempit pilihan melalui rekomendasi yang dipersonalisasi.
Ketika seseorang mencari produk tertentu, sistem dapat menggunakan berbagai informasi seperti kata kunci pencarian, produk yang dilihat, barang yang dimasukkan ke keranjang, hingga riwayat transaksi untuk menampilkan rekomendasi yang dianggap relevan.
Bagi konsumen, hal ini tentu memberikan kemudahan.
Kita tidak perlu lagi menyusuri ratusan halaman produk. Algoritma membantu mempertemukan konsumen dengan barang yang kemungkinan sesuai dengan kebutuhannya.
Bagi pelaku usaha, teknologi ini juga membuka peluang baru. Produk dari penjual dapat lebih mudah ditemukan oleh calon pembeli yang dianggap memiliki minat terhadap produk tersebut.
Namun, di sinilah muncul sebuah pertanyaan menarik:
Apakah AI hanya membantu kita menemukan apa yang kita cari, atau perlahan ikut menentukan apa yang akhirnya kita beli?
Ketika rekomendasi memengaruhi keputusan
Dalam belanja konvensional, keputusan membeli biasanya dipengaruhi oleh kebutuhan, harga, kualitas, rekomendasi orang lain, dan pengalaman melihat produk secara langsung.
Dalam e-commerce, situasinya sedikit berbeda.
Konsumen berhadapan dengan layar yang dipenuhi pilihan. Di antara ribuan bahkan jutaan produk, algoritma membantu menentukan produk mana yang lebih dulu muncul di hadapan kita.
Produk yang muncul di halaman pertama tentu memiliki peluang lebih besar untuk diperhatikan dibandingkan produk yang berada jauh di halaman berikutnya.
Di titik ini, AI tidak hanya menjadi alat pencarian. Ia juga menjadi bagian dari lingkungan tempat konsumen mengambil keputusan.
Misalnya, seseorang awalnya hanya ingin membeli sepatu. Setelah melihat beberapa rekomendasi, ia menemukan produk lain yang sebelumnya tidak terpikirkan. Akhirnya, barang tambahan tersebut masuk ke keranjang.
Tidak ada yang secara langsung memaksa konsumen untuk membeli.
Namun, cara informasi disajikan dapat memengaruhi perhatian dan pilihan seseorang.
Inilah salah satu hal penting yang perlu kita pahami sebagai konsumen digital.
Kemudahan versus kontrol
Penggunaan AI dalam e-commerce pada dasarnya memberikan banyak manfaat.
Konsumen mendapatkan rekomendasi yang lebih relevan. Penjual dapat memahami kebutuhan pasar dengan lebih baik. Platform dapat meningkatkan pelayanan dan membuat proses pencarian produk menjadi lebih efisien.
Tetapi semakin banyak keputusan yang dibantu oleh algoritma, semakin penting pula pertanyaan mengenai transparansi.
Mengapa produk tertentu muncul di posisi teratas?
Mengapa kita mendapatkan rekomendasi tertentu?
Data apa yang digunakan untuk menghasilkan rekomendasi tersebut?
Dan yang tidak kalah penting: sejauh mana konsumen menyadari bahwa perilaku mereka di platform dapat digunakan untuk membentuk pengalaman belanja berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika AI berkembang semakin cepat.
Konsumen bukan sekadar angka dalam algoritma
Ada kecenderungan untuk melihat konsumen digital sebagai kumpulan data: apa yang dicari, apa yang diklik, berapa lama melihat sebuah produk, dan apa yang akhirnya dibeli.
Padahal, di balik data tersebut terdapat manusia dengan kebutuhan, pilihan, dan hak yang harus dihormati.
Karena itu, perkembangan AI dalam e-commerce seharusnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana teknologi dapat meningkatkan penjualan.
Kita juga perlu membicarakan bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.
Konsumen perlu mendapatkan informasi yang cukup mengenai penggunaan data dan sistem digital yang memengaruhi pengalaman mereka. Pelaku usaha dan platform juga perlu memperhatikan aspek keamanan data, kejelasan informasi produk,
