Oleh: Budi Apriyanto, S.Kom., M.Kom.
Dosen Teknik Informatika – Universitas Pamulang
Setiap hari, jutaan dari kita terbangun, menjangkau ponsel pintar, dan mengusap layar untuk melihat apa yang sedang terjadi di dunia. Dalam hitungan detik, belasan judul berita, potongan video pendek, dan unggahan opini membanjiri pandangan kita. Ada berita tentang kondisi ekonomi nasional, isu politik terkini, hingga ketegangan geopolitik global.
Namun, pernahkah kita benar-benar berhenti sejenak dan bertanya: Mengapa berita ini yang muncul di layar saya, sementara berita lain tidak? Siapa atau apa yang sebenarnya memilihkan informasi ini untuk saya?
Dahulu, jawaban atas pertanyaan itu sangat jelas. Kelayakan sebuah informasi ditentukan oleh insan pers—para wartawan, redaktur, dan pemred di ruang redaksi yang berdebat sengit mengenai kode etik, kebenaran fakta, serta dampak publik sebelum suatu berita dicetak atau ditayangkan.
Hari ini, peta itu telah berubah secara drastis. Peran gatekeeper informasi secara perlahan namun pasti berpindah tangan. Penyeleksi utama atas apa yang kita baca, dengar, dan percayai kini adalah barisan kode digital yang bekerja tanpa henti: Artificial Intelligence (AI) dan algoritma platform digital.
Ketika kecerdasan buatan mulai mengambil alih peran untuk memilah, menyaring, dan menyajikan informasi, kita dihadapkan pada kenyataan baru yang cukup mendesak: Bagaimana jika sistem yang menentukan mana berita jujur dan mana propaganda ternyata tidak benar-benar memahami perbedaan di antara keduanya?
Pergeseran Penjaga Pintu Informasi
Untuk memahami besarnya dampak keterlibatan AI dalam konsumsi media kita, kita perlu melihat bagaimana cara kita mengakses berita telah bergeser selama dua dekade terakhir.
Dahulu, media arus utama berfungsi sebagai penyaring tunggal. Prosesnya memiliki akuntabilitas yang jelas. Jika media membuat kesalahan atau menyebarkan propaganda, ada mekanisme koreksi: hak jawab, dewan pers, serta sanksi sosial berupa jatuhnya kredibilitas media tersebut.
Saat ini, mayoritas masyarakat—terutama generasi muda—tidak lagi secara aktif mengunjungi situs berita dari halaman depan (homepage). Kebanyakan orang mendapatkan berita melalui feed media sosial, aplikasi agregator, mesin pencari, serta platform pesan instan. Di titik inilah AI memegang kendali penuh.
Algoritma rekomendasi berbasis AI bertindak layaknya penyunting berita pribadi untuk setiap individu. Setiap detik, AI menganalisis ribuan data dari perilaku digital kita:
- Apa yang membuat kita berhenti bergulir (scrolling)?
- Konten mana yang kita beri reaksi atau tanggapan?
- Isu apa yang paling lama kita baca?
- Kata kunci apa yang sering kita cari saat cemas atau penasaran?
Dari data tersebut, AI menciptakan profil preferensi yang sangat spesifik. Hasilnya, tidak ada dua orang yang melihat tampilan feed berita yang persis sama. Dunia informasi kita kini sepenuhnya terspesialisasi.
Matematika Keterikatan (Engagement)
Di sinilah letak akar permasalahannya. Publik sering kali menganggap AI sebagai teknologi yang objektif, cerdas, dan tidak berpihak. Padahal, AI pada dasarnya adalah mesin optimasi statistik. Ia bekerja berdasarkan fungsi tujuan (objective function) yang diberikan oleh pengembangnya.
Dalam industri platform digital, fungsi tujuan utama algoritma hampir selalu sama: memaksimalkan keterikatan pengguna (user engagement) dan durasi penggunaan (screen time). Semakin lama seseorang bertahan di dalam aplikasi, semakin banyak iklan yang dapat ditayangkan, dan semakin besar keuntungan ekonomi yang diperoleh platform.
Lantas, bagaimana dampaknya terhadap penyaringan berita versus propaganda?
- Berita Objektif Sering Kali “Membosankan”: Berita yang disusun sesuai standar jurnalistik yang ketat biasanya berimbang. Berita semacam ini menyajikan fakta dari berbagai sudut pandang, menggunakan bahasa yang netral, dan menghindari kesimpulan yang terburu-buru. Namun secara psikologis, fakta yang dingin dan berimbang jarang memicu dorongan emosional yang kuat untuk langsung dibagikan atau dikomentari.
- Propaganda Dirancang untuk Menyentuh Emosi Dasar: Sebaliknya, propaganda—baik yang diproduksi oleh aktor politik, kelompok kepentingan, maupun pemburu clickbait—dibuat dengan cermat untuk mengeksploitasi psikologi manusia. Propaganda memanfaatkan emosi-emosi primer yang paling cepat memicu reaksi: rasa takut, kemarahan, kejengkelan, dan kebanggaan kelompok yang berlebihan.
Ketika sebuah konten propaganda dikemas dengan judul provokatif dan narasi yang tajam, respon pengguna akan melonjak seketika. Orang-orang akan marah di kolom komentar, membagikannya ke grup percakapan dengan nada geram, atau berdebat sengit.
Bagi AI, lonjakan interaksi ini adalah sinyal positif. AI tidak memiliki pemahaman moral; AI tidak tahu bahwa konten tersebut memuat disinformasi atau ujaran kebencian. Yang dibaca oleh algoritma hanyalah angka: konten ini memiliki angka interaksi yang tinggi, maka konten ini harus disebarkan ke lebih banyak orang. Secara tidak sengaja namun sistematis, algoritma AI memprioritaskan propaganda yang provokatif di atas berita jujur yang tenang.
Bahaya Terselubung bagi Masyarakat
Propaganda di era digital tidak lagi selalu berbentuk pamflet kasar atau pidato doktrinal seperti di masa lalu. Saat ini, propaganda telah berevolusi menjadi sangat halus, personal, dan adaptif—sebagian besar justru berkat bantuan teknologi AI itu sendiri.
Ketika AI agregator berita menerima banjir konten manipulatif ini, ada beberapa ancaman besar yang mengintai kehidupan bermasyarakat kita:
1. Terjebak dalam Ruang Gema (Echo Chamber)
Ketika AI mendeteksi bahwa seseorang cenderung menyukai narasi politik tertentu, algoritma akan terus menyuapi orang tersebut dengan konten sejenis. Informasi yang bertentangan atau memberikan penyeimbang akan disaring dan disingkirkan secara otomatis dari layar pengguna. Lama-kelamaan, pengguna terjebak dalam ruang gema dan berasumsi bahwa seluruh dunia memiliki pandangan yang sama dengan mereka.
2. Pembentukan Ilusi Kebenaran (Illusion of Truth)
Psikologi manusia memiliki kecenderungan ilmiah: semakin sering kita mendengar sebuah pernyataan diulang-ulang, semakin besar kecenderungan kita untuk memercayainya sebagai kebenaran. Ketika algoritma AI merekomendasikan narasi propaganda yang sama secara berulang melalui berbagai bentuk unggahan yang tampak berbeda, kebohongannya akhirnya diterima sebagai fakta yang tak terbantahkan.
3. Polarisasi Sosial dan Erosi Kepercayaan
Dampak paling berbahaya dari dominasi AI dalam penentuan berita adalah tergerusnya modal sosial masyarakat: rasa saling percaya. Ketika publik tidak lagi memiliki basis fakta bersama (shared facts), diskusi publik yang sehat menjadi sulit terjadi. Masyarakat terbelah menjadi kubu-kubu ekstrem yang saling curiga.
Bisakah AI Digunakan untuk Melawan Propaganda?
Pertanyaan krusial berikutnya adalah: Apakah AI sepenuhnya menjadi ancaman, atau bisakah teknologi ini justru dimanfaatkan sebagai pelindung dari propaganda?
Jawabannya adalah AI memiliki potensi di kedua sisi. Saat ini, banyak peneliti, organisasi pers, dan perusahaan teknologi mengembangkan model AI khusus untuk mendeteksi disinformasi. AI tipe ini dilatih untuk:
- Mengenali pola penggunaan kalimat sensasional yang dirancang memicu emosi tanpa dukungan data.
- Melacak asal-usul informasi (digital provenance) untuk memeriksa riwayat unggahan atau gambar yang dimanipulasi.
- Memetakan jaringan bot yang menyebarkan narasi seragam secara bersamaan di media sosial.
Namun, mengandalkan AI sebagai penentu tunggal fakta juga menyimpan risiko tersendiri. Siapa yang menentukan parameter bahwa suatu informasi adalah berita sahih atau propaganda? Jika kontrol atas algoritma pemilah fakta berada di tangan segelintir perusahaan teknologi raksasa atau pemerintah yang otoriter, AI penyeleksi tersebut berisiko berubah menjadi alat sensor digital yang membungkam kritik, oposisi, atau suara-suara minoritas.
Benteng Terakhir Ada pada Manusia
Sebaik apa pun regulasi dan secanggih apa pun sistem deteksi AI, benteng pertahanan paling kuat melawan propaganda adalah daya kritis kita sebagai pembaca. Beberapa langkah sederhana yang dapat kita terapkan meliputi:
- Jeda Sebelum Beraksi (Pause Before Sharing): Saat membaca sebuah judul berita atau unggahan yang membuat kita merasa sangat marah, cemas, atau puas, tahan diri sejenak. Emosi yang terpicu secara instan adalah indikator utama bahwa konten tersebut mungkin sengaja dirancang untuk memanipulasi kita.
- Periksa Sumber Pembanding (Cross-Check): Jangan pernah mengandalkan satu unggahan saja. Jika ada isu besar yang memicu perdebatan, luangkan waktu untuk mencari isu tersebut di mesin pencari dan lihat bagaimana media-media nasional tepercaya memverifikasi fakta tersebut.
- Latih Algoritma Sendiri: Jika kita sering mengklik konten ganjil dan berita sensasional, AI akan menganggap kita menyukainya dan menyajikan lebih banyak hal serupa. Secara aktif, klik tombol “Tidak Tertarik” atau unfollow akun-akun penyebar provokasi tanpa sumber jelas.
- Sadar akan Bias Pribadi: Sadarilah kecenderungan alami untuk lebih mudah percaya pada informasi yang sesuai dengan pandangan pribadi kita (confirmation bias). Saat melihat berita yang sangat mendukung pandangan kita, tetaplah kritis dan tanyakan fakta pendukungnya.
Teknologi Artificial Intelligence adalah salah satu pencapaian besar dalam sejarah peradaban manusia. Namun dalam hal konsumsi informasi, AI hanyalah alat—sebuah cermin reflektif dari apa yang kita berikan kepadanya. AI tidak memiliki nurani, tidak mengenal rasa empati, dan tidak memahami harga dari sebuah kebenaran atau kedamaian sosial.
Ketika AI mulai menentukan mana berita dan mana propaganda, kita tidak boleh menyerahkan kedaulatan berpikir kita sepenuhnya kepada kode komputer. Masa depan kualitas demokrasi dan ruang publik bergantung pada keputusan yang kita ambil setiap kali menatap layar ponsel: apakah kita memilih menjadi konsumen pasif yang mudah dikendalikan oleh algoritma, atau menjadi masyarakat kritis yang memegang teguh kendali atas pemikiran kita sendiri.
