PERAN LINGKUNGAN KERJA FISIK DALAM MENINGKATKAN KESELAMATAN DAN KINERJA PEKERJA INDUSTRI

Fani Farawita Fauzi | 241010800401

Jurusan Teknik Industri | Fakultas Teknik | Universitas Pamulang

PENDAHULUAN

Lingkungan kerja fisik merupakan salah satu komponen utama dalam sistem kerja industri yang tidak hanya berpengaruh terhadap produktivitas, tetapi juga terhadap keselamatan dan kesehatan pekerja. Pada tingkat operasional, lingkungan kerja fisik mencakup berbagai aspek, seperti pencahayaan, ventilasi, tingkat kebisingan, tata letak fasilitas, suhu udara, serta kenyamanan ruang kerja. Faktor-faktor tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan kemampuan pekerja dalam melaksanakan tugas secara efektif, efisien, dan aman. Lingkungan kerja fisik yang kurang memadai berpotensi menimbulkan berbagai risiko keselamatan, seperti kecelakaan kerja, gangguan kesehatan fisik, serta penurunan konsentrasi kerja yang pada akhirnya berdampak pada menurunnya kinerja individu maupun organisasi (Wangi dkk., 2020).

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kondisi lingkungan kerja fisik berpengaruh signifikan terhadap kinerja dan keselamatan pekerja. Penelitian yang dilakukan oleh Shaari et al. menunjukkan bahwa lingkungan kerja fisik yang baik di industri manufaktur memiliki hubungan yang erat dengan peningkatan kinerja karyawan serta efektivitas kerja secara keseluruhan. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif dan menemukan bahwa lingkungan kerja yang tidak aman atau tidak sehat dapat memberikan dampak negatif terhadap produktivitas dan output kerja pekerja industri (Shaari dkk., 2022).

Selain itu, persepsi pekerja terhadap lingkungan fisik kerja juga memiliki hubungan yang signifikan dengan aspek kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Lingkungan kerja yang kondusif dinilai mampu mengurangi risiko kecelakaan kerja serta gangguan kesehatan fisik di tempat kerja. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang menunjukkan adanya pengaruh positif lingkungan fisik kerja terhadap indikator K3 pada pekerja lapangan di sektor pertambangan (Rahmawati dkk., 2020a).

Penelitian lain pada kasus PT. Surya Agrolika Reksa menyatakan bahwa lingkungan kerja fisik dan keselamatan kerja secara bersama-sama memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi fisik lingkungan kerja yang memadai, seperti pencahayaan yang cukup, kebersihan area kerja, serta tata letak kerja yang ergonomis, disertai dengan penerapan keselamatan kerja yang baik, berperan penting dalam meningkatkan efektivitas dan produktivitas karyawan. Hasil penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa investasi dalam perbaikan kondisi fisik lingkungan kerja tidak hanya mendorong peningkatan kinerja kerja, tetapi juga memperkuat aspek keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan pekerja secara berkelanjutan (Sherlina dkk., 2024).

Dengan demikian, pemahaman yang komprehensif mengenai peran lingkungan kerja fisik dalam konteks industri tidak hanya berimplikasi pada peningkatan produktivitas semata, tetapi juga pada terciptanya budaya kerja yang aman dan sehat. Kondisi tersebut merupakan prasyarat penting dalam pengembangan sumber daya manusia yang unggul serta mendukung keberlanjutan kinerja organisasi di sektor industri modern.

PEMBAHASAN

Gambaran Lingkungan Kerja Fisik

Lingkungan kerja fisik merupakan komponen penting yang memengaruhi kesejahteraan dan produktivitas pekerja di industri. Dalam konteks operasional, lingkungan fisik mencakup sejumlah aspek seperti pencahayaan, ventilasi, tingkat kebisingan, tata letak fasilitas, suhu dan kelembapan udara yang secara langsung berkaitan dengan kenyamanan dan kemampuan pekerja dalam melaksanakan tugasnya secara efektif dan aman. Menurut Anugerah et al., aspek fisik seperti temperatur, ventilasi, kebisingan, serta layout workspace berkontribusi signifikan terhadap kinerja karyawan, di mana kondisi yang tidak optimal dapat mengganggu efektivitas kerja dan kesejahteraan pekerja industri garment (Mahmud dkk., 2025a).

Selain itu, faktor fisik lingkungan kerja seperti pencahayaan yang tidak sesuai standar serta kebisingan yang berlebihan dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi pekerja, termasuk gangguan pendengaran dan stres, yang berimplikasi pada kemampuan pekerja untuk berkonsentrasi serta produktivitas secara keseluruhan (Wijayantono dkk., 2025). pengukuran faktor fisik seperti pencahayaan, kebisingan, suhu, dan kelembapan penting untuk menilai tingkat kenyamanan kerja, karena ketidaksesuaian nilai ambang batas pada indikator ini berpotensi meningkatkan beban kerja fisik dan kelelahan pekerja (Umyati & Andara, 2017). Dengan demikian, pengelolaan lingkungan kerja fisik yang baik tidak hanya mendukung produktivitas, tetapi juga merupakan bagian penting dalam upaya menjaga keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan industri.


Faktor-Faktor yang Memengaruhi Lingkungan Kerja Fisik


Gambar 1 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Lingkungan Kerja Fisik
  1. Temperatur

Temperatur lingkungan kerja berpengaruh langsung terhadap kenyamanan termal dan daya tahan fisik pekerja. Suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kelelahan, dehidrasi, dan penurunan konsentrasi, sedangkan suhu yang terlalu rendah dapat menimbulkan ketidaknyamanan serta menurunkan fleksibilitas otot. Pengendalian temperatur yang sesuai standar sangat diperlukan agar pekerja dapat menjalankan aktivitas kerja secara optimal dan aman.

  1. Sirkulasi Udara

Sirkulasi udara yang baik berperan penting dalam menjaga kualitas udara di ruang kerja. Ventilasi yang memadai membantu mengurangi penumpukan polutan, debu, dan gas berbahaya, serta menjaga kadar oksigen tetap optimal. Kondisi sirkulasi udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan menurunkan kenyamanan kerja, sehingga berdampak negatif pada kinerja pekerja.

  1. Kelembaban

Kelembaban udara memengaruhi kenyamanan dan kesehatan pekerja, terutama dalam aktivitas kerja yang berlangsung dalam waktu lama. Kelembaban yang terlalu tinggi dapat menyebabkan rasa pengap dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroorganisme, sedangkan kelembaban yang terlalu rendah dapat mengakibatkan iritasi kulit dan saluran pernapasan. Oleh karena itu, pengendalian kelembaban menjadi aspek penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat.

  1. Cahaya

Pencahayaan yang memadai sangat penting untuk mendukung aktivitas visual pekerja. Intensitas cahaya yang tidak sesuai dapat menyebabkan ketegangan mata, kelelahan visual, dan meningkatkan risiko kesalahan kerja. Pencahayaan yang baik memungkinkan pekerja melihat objek kerja dengan jelas, meningkatkan ketelitian, serta mendukung keselamatan dan produktivitas kerja.

  1. Getaran

Getaran yang berasal dari mesin atau peralatan kerja dapat berdampak negatif terhadap kesehatan pekerja apabila terjadi secara terus-menerus. Paparan getaran jangka panjang dapat menimbulkan gangguan muskuloskeletal dan menurunkan kenyamanan kerja. Oleh karena itu, pengendalian sumber getaran dan penggunaan alat pelindung menjadi upaya penting dalam menjaga kesehatan dan kinerja pekerja.

  1. Kebisingan

Kebisingan merupakan faktor lingkungan kerja fisik yang dapat mengganggu konsentrasi dan meningkatkan tingkat stres pekerja. Paparan kebisingan yang melebihi batas aman berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran serta menurunkan efektivitas komunikasi di tempat kerja. Pengendalian kebisingan melalui peredam suara dan pengaturan tata letak kerja sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman.

  1. Warna

Warna pada lingkungan kerja berpengaruh terhadap kondisi psikologis dan kenyamanan visual pekerja. Pemilihan warna yang tepat dapat meningkatkan suasana kerja, mengurangi kelelahan mata, serta mendukung konsentrasi dan motivasi kerja. Sebaliknya, warna yang terlalu mencolok atau tidak sesuai dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu fokus kerja.

  1. Ketinggian

Ketinggian tempat kerja, terutama pada pekerjaan di area bertingkat atau di atas permukaan tanah, dapat memengaruhi kondisi fisiologis dan tingkat risiko keselamatan pekerja. Pekerjaan pada ketinggian tertentu memerlukan pengamanan khusus karena berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja. Pengaturan prosedur kerja dan penggunaan alat keselamatan menjadi aspek penting dalam mengendalikan risiko tersebut.

  1. Gravitasi

Faktor gravitasi berkaitan dengan beban fisik yang diterima pekerja dalam melakukan aktivitas kerja, terutama yang melibatkan pengangkatan dan pemindahan material. Pengaruh gravitasi terhadap postur dan gerakan kerja perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan cedera muskuloskeletal. Penerapan prinsip ergonomi menjadi langkah penting dalam meminimalkan dampak negatif faktor ini.

Lingkungan Kerja Fisik & Keselamatan Kerja

Lingkungan kerja fisik memiliki peran penting dalam memastikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan industri. Kondisi fisik seperti pencahayaan, tingkat kebisingan, suhu udara, dan ventilasi yang tidak sesuai standar dapat meningkatkan risiko kecelakaan serta gangguan kesehatan pekerja. Misalnya, penelitian yang dilakukan di sektor jasa pengujian menunjukkan bahwa faktor-faktor fisika lingkungan kerja seperti kebisingan tinggi, pencahayaan yang tidak memadai, dan variasi suhu pada area kerja memberi dampak signifikan terhadap kondisi kesehatan pekerja dan potensi bahaya K3, sehingga necessitas pengendalian lingkungan menjadi penting untuk mengurangi risiko kecelakaan dan masalah kesehatan (Cahyadi dkk., 2025).

Selain itu, studi persepsi pekerja lapangan di sektor pertambangan menemukan bahwa persepsi terhadap lingkungan kerja fisik berpengaruh signifikan terhadap aspek kesehatan dan keselamatan kerja, di mana peningkatan kualitas kondisi fisik lingkungan berhubungan dengan peningkatan indikator K3. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan kerja fisik seperti pencahayaan yang cukup, pengendalian kebisingan, pengaturan ventilasi dan suhu tidak hanya berkontribusi pada kenyamanan kerja tetapi juga menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi pekerja, sehingga menurunkan kecenderungan kecelakaan dan gangguan kesehatan yang memengaruhi produktivitas kerja (Rahmawati dkk., 2020b).

Lingkungan Kerja Fisik & Kinerja Pekerja

Lingkungan kerja fisik merupakan faktor yang krusial dalam menentukan kinerja pekerja di berbagai jenis organisasi, baik sektor publik maupun swasta. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi fisik tempat kerja yang nyaman dan memenuhi standar ergonomis dapat meningkatkan kemampuan pekerja dalam menyelesaikan tugasnya secara optimal. Misalnya, penelitian oleh Rahman et al. menemukan bahwa fasilitas kerja yang baik termasuk pencahayaan dan kenyamanan workstation berkontribusi positif terhadap peningkatan kinerja karyawan, karena kondisi tersebut membantu mengurangi ketidaknyamanan yang mengganggu konsentrasi dan produktivitas kerja.

Secara empiris, hubungan antara lingkungan fisik dengan kinerja pekerja juga dapat dilihat dari pengaruh konkret aspek-aspek spesifik seperti ventilasi, suhu, dan tata ruang terhadap kemampuan menyelesaikan tugas. Penelitian yang dilakukan di Samarinda menunjukkan bahwa variabel lingkungan kerja fisik berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai, yang berarti bahwa perbaikan kondisi fisik seperti ventilasi yang baik dan tata letak ruang yang ergonomis akan berdampak positif pada output tugas pekerja (Guswari dkk., 2025).

Salah satu elemen lingkungan fisik yang paling banyak diteliti adalah pencahayaan. Pencahayaan yang tidak memadai dapat menyebabkan ketegangan mata, fatigue visual, dan kesulitan berkonsentrasi, yang pada akhirnya menurunkan performa kerja. Penelitian di Mojokerto menunjukkan bahwa tingkat pencahayaan di tempat kerja memiliki hubungan signifikan dengan kinerja pekerja, di mana pencahayaan yang mencukupi memungkinkan pekerja mempertahankan fokus dan bekerja dengan lebih efisien (Abidin dkk., 2025).

Selain pencahayaan, kebisingan merupakan aspek lingkungan fisik yang memengaruhi kinerja. Suara yang terlalu bising dapat mengganggu konsentrasi dan meningkatkan stres kerja, sehingga memengaruhi produktivitas. Meski beberapa variabel fisik tidak selalu dominan secara individual, hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan faktor-faktor lingkungan fisik termasuk kebisingan mempengaruhi kinerja secara bersama-sama, memberikan bukti bahwa lingkungan kerja yang terkontrol secara holistik penting untuk mendukung kinerja pekerja secara keseluruhan.

Bukti empiris lain dari industri manufaktur dan layanan juga menunjukkan bahwa perbaikan lingkungan fisik berdampak pada produktivitas secara luas. Penelitian di sektor Boyolali, misalnya, menemukan bahwa faktor lingkungan seperti suhu, ventilasi, kebisingan, dan tata letak memiliki pengaruh signifikan terhadap performa pekerja, yang menunjukkan bahwa manajemen lingkungan fisik perlu menjadi bagian strategi organisasi untuk mengoptimalkan produktivitas (Mahmud dkk., 2025b).

Temuan-temuan ini menegaskan bahwa investasi perusahaan dalam perbaikan lingkungan fisik bukan sekadar memenuhi standar kesejahteraan kerja, tetapi juga merupakan strategi efektif untuk meningkatkan kinerja pekerja. Perbaikan aspek fisik seperti pencahayaan, ventilasi, tata ruang yang ergonomis, dan pengendalian kebisingan harus dipandang sebagai bagian dari upaya peningkatan produktivitas yang sistematis. Dengan demikian, organisasi yang mampu mengelola lingkungan fisik kerja secara optimal akan mendapatkan keuntungan kompetitif melalui peningkatan kualitas dan kuantitas output pekerja.

Hubungan Keselamatan dan Kinerja

Keselamatan kerja merupakan komponen penting dalam manajemen sumber daya manusia yang secara langsung memengaruhi kinerja pekerja. Program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang baik tidak hanya bertujuan menekan angka kecelakaan dan cedera, tetapi juga menciptakan rasa aman bagi pekerja dalam menjalankan tugas sehari-hari. Rasa aman ini berkontribusi pada peningkatan kenyamanan kerja, sehingga pekerja dapat fokus dan produktif dalam menyelesaikan pekerjaannya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi keselamatan kerja berkorelasi positif dengan kinerja, di mana peningkatan aspek keselamatan mendorong performa kerja yang lebih baik (Sugiyanto & Sulfiani, 2020).

Secara empiris, penelitian di berbagai industri menunjukkan hubungan yang signifikan antara keselamatan kerja dan kinerja karyawan. Sebagai contoh, sebuah penelitian di proyek pembangunan Rumah Sakit Stella Maris Medan menyatakan bahwa penerapan keselamatan dan kesehatan kerja memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan, dengan pengujian statistik yang menunjukkan bahwa semakin baik implementasi K3 maka semakin tinggi pula kinerja pekerja. Temuan ini menegaskan bahwa aspek keselamatan kerja menjadi salah satu determinan utama dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja di lingkungan kerja yang berisiko tinggi (Siregar & Ardan, 2025).

Hubungan antara keselamatan kerja dan kinerja juga dapat dipahami melalui mekanisme psikologis dan perilaku pekerja. Lingkungan kerja yang menerapkan prosedur keselamatan secara konsisten memberikan sinyal kepada pekerja bahwa organisasi menghargai kesejahteraan mereka. Hal ini dapat meningkatkan motivasi internal, disiplin kerja, serta kepatuhan terhadap prosedur operasional, yang pada gilirannya meningkatkan output dan kualitas kerja. Bahkan dalam beberapa studi, disiplin kerja terbukti menjadi variabel mediasi yang memperkuat pengaruh keselamatan terhadap kinerja (Aprilian dkk., 2025).

Temuan-temuan ini memiliki implikasi penting bagi manajemen organisasi. Tidak hanya sebagai kewajiban normatif atau regulatif, upaya peningkatan keselamatan kerja seharusnya dipandang sebagai investasi strategis yang mampu meningkatkan kinerja individual maupun kolektif. Perusahaan yang menerapkan standar keselamatan kerja secara efektif cenderung memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi, kecenderungan kecelakaan yang lebih rendah, serta stabilitas operasional yang lebih baik. Oleh karena itu, integrasi program K3 dalam strategi organisasi dapat menjadi faktor kunci dalam pencapaian tujuan kinerja yang berkelanjutan (Wibowo & Widiyanto, 2019).

Implikasi Bagi Industri

  1. Implikasi terhadap produktivitas dan kinerja industri

Lingkungan kerja fisik yang kondusif memiliki implikasi signifikan terhadap produktivitas dan kinerja keseluruhan dalam konteks industri. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan pengelolaan lingkungan kerja fisik secara efektif cenderung memiliki output kerja yang lebih tinggi karena pekerja dapat bekerja dengan lebih fokus dan minim gangguan. Misalnya, studi dalam sektor garmen di Boyolali menemukan bahwa lingkungan kerja fisik yang baik, termasuk pengaturan suhu, ventilasi, dan kebisingan, berpengaruh signifikan terhadap kinerja pekerja, yang pada gilirannya memberi kontribusi positif terhadap produktivitas industri secara keseluruhan (Manurung, 2020).

  1. Pengaruh terhadap kesehatan, keselamatan kerja, dan biaya operasional

Perbaikan lingkungan kerja fisik juga berdampak pada aspek kesehatan dan keselamatan kerja (K3), yang memiliki efek luas bagi operasional industri. Lingkungan fisik yang tidak mendukung dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja, yang tidak hanya merugikan pekerja tetapi juga industri melalui kenaikan tingkat absensi dan biaya klaim kesehatan. Penelitian yang mengevaluasi hubungan lingkungan kerja dengan produktivitas pekerja menunjukkan bahwa aspek keselamatan dan kesehatan kerja yang baik membantu mempertahankan produktivitas pekerja dengan menurunkan frekuensi gangguan kesehatan (Rosita K dkk., 2024).

  1. Dampak pada kepuasan dan retensi pekerja

Lingkungan kerja fisik yang terkelola dengan baik tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga berkontribusi pada kepuasan kerja pekerja, yang merupakan faktor penting dalam retensi tenaga kerja. Kepuasan kerja cenderung meningkat bila pekerja merasa lingkungan fisik membantu mereka dalam menyelesaikan tugas dengan nyaman dan aman. Hal ini ditunjukkan dalam literatur bahwa peningkatan kualitas lingkungan fisik di tempat kerja meningkatkan kesejahteraan dan kepuasan kerja, yang pada akhirnya dapat mengurangi turnover dan memperkuat stabilitas sumber daya manusia dalam industri (Sugiyanto & Sulfiani, 2020).

  1. Implikasi strategis bagi manajemen dan kebijakan industri

Dari perspektif manajemen strategis, investasi dalam perbaikan lingkungan kerja fisik merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing industri. Industri yang mengintegrasikan standar keselamatan, kesehatan, dan ergonomi dalam desain lingkungan kerja akan lebih siap menghadapi tantangan produktivitas serta mematuhi standar regulasi ketenagakerjaan. Sebagai contoh, penelitian tentang keterkaitan lingkungan kerja dengan produktivitas menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan kerja secara sistematis dapat membantu industri meningkatkan efisiensi operasional serta menciptakan budaya kerja yang lebih aman dan sehat (Hariyadi, 2014).

PENUTUP

Lingkungan kerja fisik merupakan komponen penting dalam sistem kerja industri yang berpengaruh langsung terhadap keselamatan, kesehatan, dan kinerja pekerja. Aspek-aspek seperti pencahayaan, ventilasi, suhu dan kelembapan udara, kebisingan, getaran, serta tata letak dan ergonomi kerja terbukti memengaruhi tingkat kenyamanan, konsentrasi, dan risiko kecelakaan kerja. Lingkungan kerja fisik yang tidak memenuhi standar dapat meningkatkan beban kerja fisik maupun mental, menurunkan produktivitas, serta menimbulkan gangguan kesehatan dan keselamatan yang berdampak negatif pada kinerja pekerja dan organisasi.

Berdasarkan hasil kajian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan lingkungan kerja fisik yang baik berkontribusi signifikan terhadap peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sekaligus kinerja pekerja industri. Lingkungan kerja yang aman dan nyaman mendorong pekerja untuk bekerja lebih fokus, efisien, dan produktif. Oleh karena itu, perbaikan lingkungan kerja fisik perlu dipandang sebagai investasi strategis yang berkelanjutan guna mendukung pengembangan sumber daya manusia, meningkatkan daya saing industri, serta menjamin keberlanjutan kinerja organisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, F. M., Diana, S., & Eka Dyah Katiningrum. (2025). THE INFLUENCE OF PHYSICAL WORK ENVIRONMENT FACTORS ON THE PERFORMANCE OF EMPLOYEES OF THE MOJOKERTO REGENCY HEALTH OFFICE. INTERNATIONAL JOURNAL OF NURSING AND MIDWIFERY SCIENCE (IJNMS), 9(2), 187–194. https://doi.org/10.29082/IJNMS/2025/Vol9/Iss2/705

Aprilian, D., Subyantoro, A., & Hikmah, K. (2025). The Influence of Occupational Safety and Health on Employee Performance with Work Discipline as a Mediating Variable at PT Vale Indonesia Tbk. Strata International Journal of Social Issues, 2(1). https://doi.org/10.59631/sijosi.v2i1.320

Cahyadi, S., Suwarni, P. E., Sundari, S., & Septiani, R. (2025). Analisis Risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja Akibat Faktor Fisika Lingkungan Kerja pada Sektor Jasa Pengujian. Industrika : Jurnal Ilmiah Teknik Industri, 9(3), 854–866. https://doi.org/10.37090/indstrk.v9i3.2375

Guswari, M. F., Sofia Ulfa Eka Hadiyanti, & Vera Anitra. (2025). Effect of the Physical Work Environment on Employee Performance at the Labor Office of Samarinda City. International Journal Administration, Business & Organization, 6(3), 1–14. https://doi.org/10.61242/ijabo.25.511

Hariyadi, H. (2014). ANALISA KETERKAITAN ANTARA LINGKUNGAN KERJA, KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA DENGAN METODE STRUCTURAL EQUATION MODELING (Studi Kasus: PT. Media Karya Sentosa Gresik). Jurnal MATRIK, 17(1). https://doi.org/DOI: https://doi.org/10.30587/matrik.v14i2.519

Mahmud, D. P., Anugerah, A. R., Jayatri, U. F., Jinan, S. F. N., Natalia, A., & Nanda, S. O. (2025a). Workplace Environment and Its Effect on Employee Productivity: Insights from the Boyolali Garment Industry. Tekmapro : Journal of Industrial Engineering and Management, 20(1).

Mahmud, D. P., Anugerah, A. R., Jayatri, U. F., Jinan, S. F. N., Natalia, A., & Nanda, S. O. (2025b). Workplace Environment and Its Effect on Employee Productivity: Insights from the Boyolali Garment Industry.

Manurung, H. E. (2020). Pengaruh Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Sarana Pembangunan Palembang Jaya.

Rahmawati, A., Dewi, R. S., & Tanau, M. U. (2020a). Pengaruh Persepsi Lingkungan Kerja Fisik terhadap Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) Karyawan Lapangan PT Antang Gunung Meratus. Jurnal Kognisia, 3(1), 166. https://doi.org/10.20527/kognisia.2020.04.025

Rahmawati, A., Dewi, R. S., & Tanau, M. U. (2020b). Pengaruh Persepsi Lingkungan Kerja Fisik terhadap Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) Karyawan Lapangan PT Antang Gunung Meratus. Jurnal Kognisia, 3(1), 166. https://doi.org/10.20527/kognisia.2020.04.025

Rosita K, D., Intan A, S., Alfatun J, M., & Rozy, N. (2024). The Influence of Occupational Health and Safety and the Work Environment on Worker Productivity. Jurnal Health Sains, 5(12). https://doi.org/10.46799/jhs.v5i12.1337

Shaari, R., Sarip, A., & Ramadhinda, S. (2022). A Study of The Influence of Physical Work Environments on Employee Performance. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, 12(12), Pages 1734-1742. https://doi.org/10.6007/IJARBSS/v12-i12/15975

Sherlina, Y., Kusumah, A., & Bakaruddin, D. (2024). Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik, Keselamatan Kerja, dan Beban Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada Pt. Surya Agrolika Reksa Sei Basau Kuantan Singingi. 3(2).

Siregar, R., & Ardan, M. (2025). 1,2Program Studi Teknik Sipil, Universitas Medan Area, royenjelsiregar76@gmail.com. Jurnal Teknik, 5(1). https://doi.org/DOI: https://doi.org/10.51135/7ktc0d92

Sugiyanto, S., & Sulfiani, S. (2020). PENGARUH KEBIJAKAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) TERHADAP KINERJA KARYAWAN. WAKTU, 18(2), 38–50. https://doi.org/10.36456/waktu.v18i2.3253

Umyati, A., & Andara, S. A. (2017). IDENTIFIKASI LINGKUNGAN FISIK DAN PENILAIAN KELELAHAN PADA OPERATOR PULPIT VIII DAN IX DI PT KRAKATAU WAJATAMA. Journal Industrial Servicess, 3(1). https://doi.org/DOI: http://dx.doi.org/10.36055/jiss.v3i1c.2109

Wangi, V. K. N., Bahiroh, E., & Imron, A. (2020). Dampak Kesehatan Dan Keselamatan Kerja, Beban Kerja, Dan Lingkungan Kerja Fisik Terhadap Kinerja Karyawan. Jurnal Manajemen Bisnis, 7(1), 40–50. https://doi.org/10.33096/jmb.v7i1.532

Wibowo, Fx. P., & Widiyanto, G. (2019). Pengaruh Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Bagian Produksi Pada Perusahaan Tom’s Silver Yogyakarta. Primanomics : Jurnal Ekonomi & Bisnis, 17(2), 23. https://doi.org/10.31253/pe.v17i2.170

Wijayantono, Lindawati, & Afridon. (2025). The Effect of Noise and Lighting on Physiological and Psychological Health of Manufacturing Industry Workers. Asian Journal of Healthcare Analytics (AJHA), 4(2), 315–330. https://doi.org/DOI: https://doi.org/10.55927/ajha.v4i2.15579

By Admin2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *