ANOMALI PASAR DAN EUPHORIA PASAR: MENGAPA INVESTOR TETAP TERJEBAK FOMO DI TENGAH INFORMASI YANG MELIMPAH?

¹Amanda Revalina, ²Fadhilah Azahra, ³Lisnawati,

4Shohifatul Ulya, 5Wulan Amelia, 6Zukhruf Qori Firdausi

Universitas Pamulang

Dosen Pembimbing: Kartika Sari Dewi, S.E,. M.M.

Pendahuluan

Perkembangan teknologi dan internet membuat informasi mengenai investasi semakin gampang ditemukan dan diakses. Investor dapat memperoleh informasi pasar, laporan keuangan perusahaan, analisis saham, serta rekomendasi investasi hanya melalui ponsel pintar. Secara teori, semakin banyak informasi yang ada, semakin mudah bagi investor untuk membuat keputusan yang lebih rasional dan terang. Namun, faktanya banyak investor masih tertinggal karena takut ketinggalan kesempatan mendapatkan keuntungan yang sedang dirasakan oleh investor lainnya.

Fenomena ini sering muncul ketika harga saham, kriptocurrency, atau aset investasi tertentu naik dengan cepat. Banyak investor membeli aset bukan karena mereka memahami analisis fundamental yang baik, tapi karena takut ketinggalan dengan tren pasar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor psikologis umumnya lebih berpengaruh dibandingkan informasi yang dimiliki.

Pengertian Anomali Pasar dan Euphoria Pasar

Anomali pasar adalah kondisi di mana pergerakan harga aset tidak sepenuhnya sesuai dengan konsep pasar efisien, yaitu cara di mana harga mencerminkan semua informasi yang tersedia. Faktanya, harga aset sering dipengaruhi oleh perasaan, sikap pasar, dan tindakan para investor.

Sementara itu, pasar menjadi sangat antusias karena para investor terlalu percaya diri, sehingga mendorong mereka untuk membeli aset dalam jumlah yang besar. Pada tahap ini, para investor lebih fokus pada kemungkinan mendapatkan untung daripada memperhatikan bahaya yang bisa terjadi. Akibatnya, harga aset bisa meningkat sangat tinggi sampai melebihi nilai asli dari aset itu.

Mengapa Investor Tetap Terjebak FOMO?

1. Pengaruh Psikologi dan Emosi

Meskipun ada banyak informasi yang tersedia, manusia tidak selalu mampu memutuskan dengan cara yang rasional. Ketika melihat banyak orang berhasil mendapatkan manfaat dari suatu investasi, banyak investor merasa terdorong secara emosional untuk ikut membeli. Kemauan untuk mendapatkan untung cepat sering kali membuat orang melewatkan proses analisis yang benar-benar matang.

2. Herding Behavior (Perilaku Ikut-ikutan)

Para investor cenderung mengikuti langkah kebanyakan orang karena mereka berpikir sulit bagi banyak orang untuk melakukan kesalahan. Fenomena ini dikenal sebagai herding behavior. Akibatnya, keputusan berinvestasi semakin bergantung pada tren pasar daripada pada analisis fundamental atau teknikal.

3. Overload Informasi

Terlalu banyak informasi justru bisa membuat investor bingung dalam memutuskan sesuatu. Dalam situasi seperti itu, investor sering memilih cara yang mudah dengan mengikuti pendapat dari pengaruh, kelompok investasi, atau suasana pasar yang sedang tren. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya FOMO.

4. Pengaruh Media Sosial

Media sosial mempercepat penyebaran informasi dan juga perasaan pasar. Pembagian informasi tentang keuntungan besar dari sebuah saham atau aset kripto bisa membuat investor lain langsung ingin membeli tanpa memeriksa informasi secara mendalam terlebih dahulu. Informasi yang beredar secara viral sering kali membuat orang mengira bahwa suatu aset pasti akan terus meningkat.

5. Bias Kognitif

Dalam teori keuangan perilaku, ada beberapa kebiasaan yang memengaruhi cara investor membuat keputusan, antara lain:

  • Bias konfirmasi adalah kecenderungan untuk mencari informasi yang mengonfirmasi keyakinan yang sudah dipercaya.
  • Bias Overconfiden, yaitu perasaan percaya diri yang terlalu tinggi terhadap kemampuan sendiri dalam berinvestasi.
  • Bias mengambil keputusan berdasarkan informasi yang mudah diingat atau sedang banyak dibicarakan.
  • Bias tersebut menyebabkan investor lebih rentan terjebak dalam suasana gembira pasar.

Dampak FOMO terhadap Keputusan Investasi

FOMO dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti:

  1. Membeli aset pada harga yang terlalu tinggi.
  2. Mengabaikan analisis fundamental perusahaan.
  3. Meningkatkan risiko kerugian ketika harga mengalami koreksi.
  4. Mendorong perilaku trading yang berlebihan.
  5. Menurunkan kualitas pengambilan keputusan investasi.

Banyak contoh menunjukkan bahwa investor yang masuk ke pasar saat suasana penuh antusiasme biasanya yang paling mengalami kerugian ketika tren mulai berubah arah.

  • Cara Menghindari FOMO dalam Investasi
  • Untuk mengurangi risiko FOMO, para investor bisa mencoba beberapa cara berikut ini:
  • Menyusun tujuan investasi yang jelas.
  • Melakukan analisis fundamental dan teknikal sebelum memulai investasi.
  • Membuat rencana investasi dan batas risiko.
  • Tidak gampang terpengaruh oleh berita atau tren yang beredar di media sosial.
  • Fokus pada nilai sebenarnya dari aset, bukan pada perubahan harga dalam jangka waktu singkat.
  • Meningkatkan pengetahuan keuangan dan pemahaman tentang keuangan perilaku.

Dengan cara yang lebih teratur dan berpikir jernih, investor bisa menghindari memutuskan investasi hanya karena perasaan sebentar saja.

Kesimpulan

Informasi yang banyak tidak selalu membuat investor berpikir lebih jernih. Anomali pasar dan euforia pasar menunjukkan bahwa faktor psikologis masih memengaruhi cara orang berinvestasi secara signifikan. FOMO muncul karena campuran perasaan, tindakan mengikuti orang lain, kesalahan pemikiran, pengaruh media sosial, dan banyaknya informasi yang justru membuat investor bingung. Jadi, sukses dalam berinvestasi bukan hanya tergantung pada bisa mendapatkan informasi, tetapi juga pada kemampuan mengelola perasaan dan menjaga disiplin saat membuat keputusan. Dengan mengetahui fenomena ini, investor bisa mengambil keputusan yang lebih jelas dan menghindari kerugian karena terpengaruh gelombang semangat pasar.

DAFTAR PUSTAKA

Barberis, N., & Thaler, R. (2003). A Survey of Behavioral Finance.

Bodie, Z., Kane, A., & Marcus, A. J. Investments 

De Bondt, W. F. M., & Thaler, R. (1985).

Fama, E. F. (1970). Efficient Capital Markets: A Review of Theory and Empirical Work.

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow.

Shefrin, H. (2007). Behavioral Corporate Finance.

Shiller, R. J. (2000). Irrational Exuberance.

Thaler, R. H. (2015). Misbehaving: The Making of Behavioral Economics.

Tversky, A., & Kahneman, D. (1974). Judgment under Uncertainty: Heuristics and Biases.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *